Wartalive.co.id — Riuh rendah suasana Pajak Tanjung Rejo selalu menjadi saksi bisu perjuangan para pencari nafkah tradisional. Di antara deru mesin sepeda motor dan kepulan asap kendaraan modern, terselip sebuah pemandangan klasik yang kian hari kian langka. Beberapa unit becak kayuh masih tampak berjejer rapi di pinggir pasar, menunggu dengan setia para pelanggan yang butuh jasa antaran.
Keberadaan transportasi roda tiga ini layaknya mesin waktu yang menolak berhenti berputar. Meski dikepung oleh berbagai moda transportasi berbasis aplikasi online yang menawarkan kecepatan dan kepraktisan, para pengemudi becak ini tetap memilih bertahan. Bagi mereka, mengayuh pedal bukan sekadar menggerakkan roda, melainkan urat nadi untuk menyambung hidup keluarga.
Salah satu sosok yang masih setia melakoni profesi ini adalah Yayat. Pria paruh baya ini sehari-hari mangkal di sekitar Pajak Tanjung Rejo, menggantungkan harapan pada setiap derap langkah kaki dan kayuhan sepedanya. Ia tak menampik bahwa kehadiran teknologi transportasi modern telah menggerus sebagian besar pendapatannya yang tak seberapa.
Baca Juga : Warga Keluhkan Parkir Liar Penyebab Macet di Simpang Pemda
“Kalau dibilang sepi, ya sepi. Karena kan udah ada gojek-gojek itu, tapi ada ajalah yang naik becak kalau di pajak gini. Tetap di syukuri ajalah apa yang ada,” ujar Yayat (10/6).
Sikap optimistis dan rasa syukur yang dimiliki Yayat menjadi bahan bakar utamanya untuk terus menarik becak setiap hari. Baginya, rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dan pasar tradisional seperti Pajak Tanjung Rejo ini masih memberikan ruang bagi mereka yang mau berusaha dan bersabar.
Keberadaan becak ini pun sejatinya belum benar-benar kehilangan fungsi di mata masyarakat, terutama bagi para ibu rumah tangga yang gemar berbelanja dalam jumlah besar. Karakteristik fisik becak yang memiliki ruang lapang di bagian depan menjadi keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki oleh transportasi roda dua modern.
Hal ini diakui oleh Ika, salah seorang pengunjung setia Pajak Tanjung Rejo. Bagi Ika, membawa barang belanjaan yang menumpuk jauh lebih praktis dan nyaman jika menggunakan jasa becak tradisional dibandingkan dengan naik ojek online.
Lihat Juga : Kantah Padangsidimpuan Tambah Tiga PNS Baru
“Kalau dari pajak, bawak belanjaan enaknya ya naik becak lah. Karena kan becak agak luas daripada gojek motor. Cuma, naik becakkan agak lebih mahal, balik ke kita lah gimana nawar-nawarnya. Jangan sampai nawar kemurahan kali juga,” ujar Ika.
Eksistensi becak di Pajak Tanjung Rejo pada akhirnya bukan sekadar tentang persaingan bisnis transportasi, melainkan tentang ruang sosial dan empati antarmanusia. Di balik tawar-menawar tarif, ada tenggang rasa yang terjaga agar para pengayuh becak tua ini tetap bisa membawa pulang rupiah demi menyambung dapur di rumah.(febrian)

