Tuesday, October 13, 2026

Dari Pembinaan PTAR, Dua UMKM Batangtoru Mengejar Pasar Lebih Luas

Baca Juga

Wartalive.co.id – Dari dapur sederhana di rumah, dua perempuan di Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), mencoba mengubah keterampilan memasak menjadi sumber penghasilan keluarga.

Mereka adalah Dian Anggraini Siregar (38), pemilik Eza Cake dan Rohima Hasibuan (38), pemilik Mak Bastian Snack.

- Advertisement -

Keduanya sama-sama mengawali usaha dari skala kecil, dengan keterbatasan peralatan, modal dan akses pasar.

Kini, setelah mendapat pembinaan dan pendampingan dari PT Agincourt Resources (PTAR), usaha mereka mulai tumbuh.

Bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga omzet, pemasaran hingga keberanian memasang target yang lebih besar.

Namun, di balik kue ulang tahun, bolu, roti, keripik dan rempeyek yang dijual, ada cerita tentang bagaimana usaha rumahan perlahan menjadi penopang ekonomi keluarga.

Dian Anggraini Siregar memulai Eza Cake pada 2018. Saat itu, kemampuan membuat kue diperolehnya secara otodidak.

Ia sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan swasta di kawasan Tambang Emas Martabe. Setelah berhenti bekerja, Dian memilih membangun usaha sendiri.

Produk yang dibuatnya beragam, mulai kue ulang tahun, bolu, roti hingga snack box.Nama Eza Cake diambil dari huruf depan nama ketiga anak Dian dan baginya, usaha tersebut bukan hanya tempat mencari penghasilan, tetapi juga bagian dari upayanya membantu ekonomi keluarga dan mempersiapkan masa depan anak-anaknya.

“Awalnya saya belajar membuat kue secara otodidak, ” kata Dian saat ditemui di Batangtoru, Rabu (19/8/2026).

Pada masa awal, usaha tersebut masih menghadapi berbagai keterbatasan. Kemampuan membuat kue terus diasah, sementara peralatan produksi belum mampu mengikuti perkembangan pesanan.

Perubahan mulai dirasakan Dian ketika bergabung sebagai pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) binaan PTAR pada tahun 2023 dan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan pastry and bakery dengan trainer dari Medan.

Berbagai jenis kue, pastry dan roti dipelajari untuk meningkatkan kemampuan produksi.

Dian juga mendapat pendampingan untuk mengidentifikasi persoalan yang dihadapi dalam menjalankan usahanya.

Salah satu masalah terbesar saat itu adalah keterbatasan peralatan.Pesanan snack box yang meningkat membuat mixer yang dimilikinya tidak lagi mampu mengimbangi kebutuhan produksi.

Baca Juga : Zakat Untuk Warga, Baznas Tapsel Terus Bergerak

“ Karena saya sempat gelagapan memenuhi orderan snack box yang semakin meningkat, ” ujarnya.

Dian kemudian membeli mixer berukuran besar. Setelah itu, ia kembali menyampaikan kebutuhan produksi kepada PTAR, khususnya oven berkapasitas besar dan dukungan tersebut akhirnya diterima Eza Cake.

Dengan memiliki dua oven, proses pemanggangan menjadi lebih cepat. Kapasitas produksi pun meningkat. Pesanan mulai datang dari berbagai kegiatan, termasuk kegiatan PTAR.

Produk Eza Cake juga mulai mendapatkan ruang pemasaran melalui Bagas Silua yang berada di sekitaran komplek operasional PTAR.

Dari sebelumnya hanya memperoleh omzet sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan, kini omzet Eza Cake bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp20 juta per bulan.

Dian tidak ingin berhenti di angka tersebut. Ia menargetkan Eza Cake memiliki dapur produksi yang lebih modern, mampu menguasai pasar kue dan snack box di seluruh Kabupaten Tapsel, serta mencapai omzet minimal Rp300 juta per bulan.

“ Target saya ke depan punya dapur produksi yang lebih modern, kemudian bisa menguasai pasar Tapsel dan omzet minimal Rp300 juta per bulan, ” katanya.

Target tersebut tentu tidak ringan. Namun, Dian melihat peluang masih terbuka lebar selama kualitas produk, kapasitas produksi dan pemasaran terus diperbaiki.

Ia juga berusaha menjaga kualitas bahan baku dan kesegaran produk dan dibuat berdasarkan pesanan agar tetap fresh dan tidak terlalu lama disimpan.

“ Saya tidak pernah menggunakan mentega atau tepung kiloan. Saya selalu memakai bahan-bahan yang sudah ternama, ” ungkapnya.

Perjalanan Eza Cake bahkan membawanya ke tingkat nasional. Dian terpilih mengikuti Business Masterclass UMKM Bisa 2026 yang diselenggarakan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).

” Dari ratusan UMKM peserta, Eza Cake berhasil masuk 10 besar UMKM binaan YDBA tingkat nasional, ” katanya.

Cerita berbeda datang dari Rohima Hasibuan yang memiliki produk kuliner jenis gorengan seperti keripik ubi, rempeyek dan jenis gorengan lainnya.

Sebelum memiliki produk dalam kemasan seperti sekarang, Rohima menjual keripik dalam plastik kecil dengan harga sekitar Rp1.000.Sambil mengajar di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), ia membawa keripik buatannya untuk dijual. Ia juga mendatangi kedai-kedai untuk menawarkan dagangannya.

“ Sembari mengajar, saya selalu membawa keripik-keripik untuk dijual. Saya juga menjajakan keripik ke kedai-kedai dengan harga seribuan rupiah, ” kenang Rohima.

Usaha itu kemudian berkembang setelah Rohima bergabung sebagai UMKM binaan PTAR pada 2022, dengan mendapatkan pelatihan mengenai teknik pembuatan keripik dan rempeyek, pengemasan serta pemasaran melalui media sosial dan melabelkan nama produknya Mak Bastian Snack yang diambil dari nama anakny bernama Bastian.

Lihat Juga : Dari BKMT, Bupati Tapsel Bicara Narkoba hingga Rentenir

Perubahan tidak hanya terjadi pada produknya. Dapur produksi Rohima yang sebelumnya menyatu dengan dapur rumah tangga kini berubah menjadi ruang produksi berukuran sekitar 2,5 x 5 meter. Sejumlah peralatan produksi juga mendapat dukungan.

Sebelum mendapat pembinaan, omzet Mak Bastian Snack hanya sekitar Rp400 ribu hingga Rp800 ribu per bulan. Kini, omzetnya bisa mencapai Rp2 juta per bulan.

Produk rempeyek dan keripik dalam kemasan 100 gram dijual sekitar Rp25 ribu. Rohima juga menerima pesanan dalam jumlah besar dengan harga yang disesuaikan.

Produk Mak Bastian Snack bahkan mulai mendapatkan pesanan dari luar Batangtoru, salah satunya dari Padangsidimpuan.

Usaha tersebut kini tidak hanya membantu kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi tambahan penghasilan bagi keluarga, sementara suaminya sendiri sehari-hari bekerja sebagai petani.

Meski demikian, Rohima masih memiliki pekerjaan rumah. Produknya belum menembus jaringan mini market.

“ Untuk saat ini memang produk kami belum masuk ke mini market. Harapan kami ke depan bisa dibantu untuk dipasarkan di minimarket, ” ujarnya.

Sementara Senior Supervisor SME PTAR, Nurlailah, mengatakan pembinaan UMKM tidak hanya ditujukan untuk memberikan peralatan atau modal dalam bentuk sarana produksi.

Menurutnya, persoalan UMKM cukup kompleks. Mulai legalitas, kualitas produk, kemasan, sanitasi, pemasaran hingga pengelolaan keuangan.

“ Kendala yang kami temui saat membina UMKM ini di awal kebanyakan dari segi perizinan yang belum terpenuhi, ” jelas Nurlailah.

Karena itu, PTAR turut mendampingi pelaku UMKM dalam mengakses perizinan, penyuluhan keamanan pangan dan perbaikan tempat produksi dan setelah kemampuan produksi meningkat, persoalan berikutnya adalah pasar.

” Tidak sedikit UMKM yang mampu menghasilkan produk bagus, tetapi masih kesulitan memperluas pemasaran, ” kata Nurlailah.

Selain itu, PTAR juga mendorong pelaku usaha memperbaiki kemasan, meningkatkan kualitas dan menciptakan produk yang memiliki ciri khas.Menurut Nurlailah, inovasi menjadi penting karena saat ini, pasar modern memiliki proses seleksi.

“ Pelaku UMKM jangan hanya membuat produk yang sama. Harus ada inovasi dan ciri khas, ” katanya.

Ia mencontohkan, Bagas Silua menjadi salah satu ruang pemasaran bagi produk UMKM binaan maupun non binaan PTAR di Tapsel.

” Kami juga mendorong bagaimana agar produk UMKM Batangtoru busa masuk ke outlet di Kota Padangsidimpuan hingga Medan, ” ucapnya.

Nurlailah menjelaskan, program pembinaan UMKM PTAR telah berjalan sejak 2021. Pada 2025, terdapat 53 UMKM kuliner yang dibina dan tersebar di 15 desa lingkar tambang di Kecamatan Batangtoru dan Muara Batangtoru.

Bagi PTAR, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari jumlah bantuan yang diberikan.

Keberlanjutan usaha dan kemampuan pelaku UMKM membangun pasar sendiri menjadi indikator penting.PTAR tidak menjadi satu-satunya pasar yang besar, tapi kami dorong lebih ke luar.

Karena pada akhirnya nanti PTAR kan akan berhenti beroperasi.Artinya, tujuan akhir pembinaan bukan membuat UMKM bergantung pada perusahaan. Sebaliknya, pelaku usaha diharapkan mampu berdiri dengan kekuatan pasarnya sendiri, ” ujar Nurlailah.

Namun, perjalanan UMKM menuju mandiri tidak selalu mulus. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah pengelolaan keuangan.

Nurlailah mengatakan, sebagian pelaku UMKM masih mencampurkan uang hasil usaha dengan kebutuhan rumah tangga.

“ Berapa dapatnya hari ini, itu untuk kebutuhan hidup hari ini, ” katanya.

Kondisi tersebut membuat modal usaha sulit berkembang. Keuntungan yang seharusnya diputar kembali untuk membeli bahan baku atau kemasan justru habis untuk kebutuhan keluarga.Karena itu, pelaku UMKM juga diberikan pelatihan pembukuan sederhana.

PTAR terus melakukan evaluasi melalui pertemuan rutin dan kunjungan ke tempat produksi.Pendampingan juga diarahkan pada perbaikan sanitasi dapur produksi.

Lihat Juga : Seribu Kandang, Jalan Baru Peternak Tapsel

“ Dari 2021 sampai sekarang, sudah banyak dapur produksinya yang di support PTAR supaya memenuhi standar sanitasi lingkungan, ” tandas Nurlailah.

Pada akhirnya, perjalanan Dian dan Rohima menunjukkan bahwa UMKM tidak tumbuh hanya karena produk yang enak.Ada proses belajar, keberanian mengambil risiko, keterbatasan yang harus diatasi, pasar yang harus dicari dan pengelolaan usaha yang harus terus dibenahi.

Eza Cake dan Mak Bastian Snack mungkin bermula dari dapur rumah dan kemasan sederhana. Tetapi bagi Dian dan Rohima, kue dan keripik itu adalah jalan untuk menjaga ekonomi keluarga sekaligus membuka pintu menuju masa depan usaha yang lebih besar. (Wan)

Warta Terbaru

HUT ke-27 Natuna, Bupati Cen Sui Lan Paparkan Capaian Pembangunan dan Anggaran Rp637,5 Miliar

Wartalive.co.id, NATUNA – Bupati Natuna Cen Sui Lan memaparkan sejumlah capaian pembangunan dan program prioritas daerah saat upacara peringatan...

Artikel Menarik Lainnya