Wartalive.co.id – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat pabrik di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dilaporkan masih bertahan di kisaran Rp3.000 per kilogram. Sementara itu, di tingkat agen, harga berada pada rentang Rp2.700 hingga Rp2.800 per kilogram, tergantung biaya angkut.
Stabilnya harga TBS tersebut diakui para petani telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi penopang utama keberlangsungan ekonomi mereka.
Meski sempat turun hingga Rp2.500 per kilogram saat terjadi bencana beberapa waktu lalu, harga sawit kini kembali stabil dan dinilai cukup membantu menutupi kebutuhan dasar.
Baca Juga : Halal Bihalal PPASN Tapsel, Perkuat Silaturahmi Purnabhakti ASN
Namun di balik stabilitas harga tersebut, petani justru dihadapkan pada persoalan lain yang tak kalah berat, yakni melonjaknya biaya produksi, terutama harga pupuk.
Kenaikan harga pupuk jenis NPK Mutiara dan KCL kemasan 50 kilogram disebut mencapai Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per sak. Sementara pupuk urea masih tersedia, namun jumlahnya terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan petani secara menyeluruh.
Para petani, Yusuf Hamdan (49) dan Sarmadan Siregar (46), keduanya warga Sihuik-huik, yang masing-masing mengaku memiliki kebun sawit seluas lima hektare dengan hasil panen sekitar dua ton setiap dua minggu.
Menurut mereka, sejauh ini tidak ada kendala dalam penjualan TBS ke pabrik. Namun lonjakan harga pupuk berdampak langsung terhadap biaya operasional kebun.
“ Kalau pupuk mahal, otomatis biaya meningkat. Kalau tidak dipupuk, buah sawit juga bisa terpengaruh, ” ujar Yusuf Hamdan
Mereka juga menjelaskan, kebutuhan pupuk untuk kebun sawit mereka rata-rata mencapai satu sak untuk sekitar 25 batang pohon.
Dengan harga pupuk yang terus meningkat, mereka khawatir tidak mampu melakukan pemupukan secara optimal, yang pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas dan kualitas buah.
Meski demikian, para petani berharap harga TBS tetap stabil di angka Rp3.000 per kilogram. Harga tersebut dinilai masih mampu menjaga keberlangsungan usaha perkebunan sekaligus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“ Kami berharap harga TBS tetap di angka Rp3.000 per kilogram. Dengan harga itu, kami masih bisa menutupi biaya kebun dan menghidupi keluarga, ” ungkap Sarmadan Siregar
Petani juga meminta pemerintah untuk menjaga stabilitas harga sawit serta memastikan distribusi pupuk berjalan lancar dan terjangkau, agar produktivitas kebun tetap terjaga.
Sementara itu, anggota DPRD Tapsel, Baginda Pulungan, menegaskan pentingnya peran aktif pemerintah dalam mengendalikan harga pupuk yang terus mengalami kenaikan.
Menurutnya, pemerintah daerah maupun pusat harus hadir melalui kebijakan yang berpihak kepada petani, seperti pengawasan distribusi pupuk bersubsidi agar tepat sasaran serta pengendalian harga pupuk non-subsidi di pasaran.
Lihat Juga : Narkoba, Miras hingga Knalpot Brong Dimusnahkan di Mapolres Padangsidimpuan
“ Pemerintah tidak boleh membiarkan harga pupuk terus melonjak tanpa kontrol. Ini sangat berdampak pada biaya produksi petani. Jika dibiarkan, produktivitas akan menurun dan kesejahteraan petani ikut terancam, ” tegas Baginda.
Ia juga mendorong adanya evaluasi terhadap rantai distribusi pupuk yang dinilai belum efisien, serta penambahan kuota pupuk bersubsidi sesuai kebutuhan riil petani di lapangan.
” Sektor pertanian dan perkebunan merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat Tapsel sehingga keberlanjutannya harus menjadi perhatian serius pemerintah, ” terangnya. (Wan)

