Wartalive.co.id – Demi menjalankan tugas mulia mencerdaskan anak bangsa, Rahmi Sasmita Sari, seorang guru Pendidikan Agama Islam di SMPN 44 Takengon, harus bertaruh nyawa. Ia terpaksa melewati rintangan ekstrem saat menempuh perjalanan menuju sekolahnya yang terletak di kawasan pedalaman Kabupaten Aceh Tengah.
Memasuki semester baru yang dimulai pada 5 Januari 2026, sosok yang akrab disapa Mita ini merasakan pengalaman yang sangat menguji adrenalin. Dua hari pertama mengajar di awal tahun ini menjadi momen yang tidak terlupakan baginya karena medan yang harus ditempuh jauh dari kata normal.
Untuk mencapai Desa Bah, Kecamatan Ketol, Mita harus menyeberangi sungai hanya dengan bantuan tali sling baja. Fasilitas darurat ini menjadi satu-satunya pilihan setelah akses jalan menuju wilayah tersebut mengalami kerusakan parah akibat faktor alam.
Baca Juga : Presiden Prabowo: Indonesia Mampu Swasembada Pangan
Setiap pagi, Mita bersama rekan-rekan guru lainnya harus bersabar mengantre di tepi sungai. Mereka menunggu giliran satu per satu untuk bisa menaiki sebuah kotak besi sederhana yang menggantung pada kabel baja tersebut agar bisa sampai ke sisi seberang.
Mekanisme penyeberangan ini dilakukan secara manual dengan kapasitas maksimal dua orang di dalam kotak besi. Agar kotak dapat bergerak meniti kabel, terdapat warga setempat yang membantu menarik tali dari ujung seberang hingga kotak mencapai daratan.
Selain menggunakan kotak besi, sebenarnya terdapat pilihan lain berupa tali sling tunggal yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Namun, cara ini jauh lebih berbahaya karena seseorang harus memijak kabel besi sambil berpegangan tangan dan melangkah secara perlahan di atas ketinggian.
Mita sendiri lebih memilih menggunakan kotak tarik demi keamanan, meskipun pemandangan di bawahnya cukup mengerikan. Dari ketinggian, terlihat aliran Sungai Ketol yang berwarna keruh dan berlumpur, sisa-sisa dari luapan air yang terjadi pada akhir November tahun lalu.
Kondisi ini disebabkan oleh banjir besar yang mengakibatkan badan jalan amblas dan aliran sungai meluas hingga memutus akses darat. Saat ini, pemerintah setempat sedang mengupayakan pembangunan jembatan darurat agar para guru dan warga dapat kembali melintas menggunakan sepeda motor dengan aman.(Febrian)
Sumber: medantalkviral

