Wartalive.co.id – Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) kembali menunjukkan taringnya dalam memberantas peredaran gelap narkotika. Kali ini, petugas berhasil mengendus dan membongkar taktik licin jaringan lintas provinsi yang mencoba mengelabui aparat dengan cara-cara yang semakin kreatif namun tetap dapat terdeteksi.
Para sindikat tersebut menggunakan modus unik dengan menyembunyikan narkotika jenis sabu ke dalam buku yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Ruang di bagian tengah buku sengaja dilubangi agar bisa menyimpan barang haram tersebut, dengan target pengiriman menuju wilayah Nusa Tenggara Barat melalui jalur udara atau laut.
Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut, Kombes Pol Andy Arisandi, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah manis dari penyelidikan intensif selama beberapa waktu. Dari hasil operasi penangkapan tersebut, polisi berhasil mengamankan barang bukti sabu dengan berat total mencapai 680 gram yang siap edar.
Baca Juga : Adu Nyali di Jalan Mongonsidi: Demi Pangkas Rute, Pemotor Nekat Lawan Arus
Menurut keterangan resmi kepolisian pada Selasa (24/2), paket berisi kristal putih tersebut sedianya akan dikirimkan dari Kota Medan menuju Kota Mataram, Lombok. Para pelaku memanfaatkan jasa ekspedisi umum untuk menyamarkan jejak mereka di tengah ribuan paket barang legal lainnya yang dikirim setiap hari. “Kami menemukan bahwa paket tersebut berisi buku yang sudah dilubangi bagian dalamnya untuk menyisipkan sabu. Ini adalah upaya mereka untuk menyamarkan isi paket dari pemeriksaan fisik maupun pemindaian petugas jasa pengiriman barang,” ungkap Kombes Andy Arisandi.
Aksi pembongkaran jaringan ini sendiri dimulai pada Jumat (13/2) lalu, ketika tim kepolisian melakukan strategi penyamaran atau undercover buy. Lokasi yang menjadi titik fokus petugas berada di kawasan Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, yang diduga kuat menjadi tempat awal pergerakan barang.
Dalam operasi senyap tersebut, petugas berhasil meringkus dua orang tersangka utama yang berinisial IS dan DP. Keduanya ditangkap sesaat setelah melakukan transaksi awal, dan kini pihak kepolisian tengah melakukan pengembangan lebih lanjut untuk memburu aktor intelektual di balik pengiriman tersebut. (Febrian)
Sumber: antarasatucom

