Wartalive.co.id – Situasi di SPBU Setia Budi, Medan, terpantau telah kembali kondusif dan berjalan normal pada Selasa (10/3). Tidak terlihat lagi deretan kendaraan yang mengular hingga ke badan jalan seperti yang terjadi beberapa hari lalu. Arus pengisian bahan bakar kini berjalan lancar tanpa ada penumpukan massa yang berarti.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan pemandangan pekan lalu, di mana antrean panjang sempat menghantui Kota Medan. Fenomena tersebut dipicu oleh merebaknya isu miring mengenai kelangkaan BBM yang akan terjadi secara masif. Padahal, setelah ditelusuri lebih lanjut, kabar burung yang meresahkan warga tersebut dipastikan adalah informasi yang kurang benar.
Kepanikan warga sempat diperparah oleh masifnya unggahan di media sosial yang menyebarkan narasi-narasi tidak berdasar. Banyak pengguna internet yang membagikan informasi keliru tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Hal inilah yang memicu gelombang ketakutan di tengah masyarakat hingga mereka berbondong-bondong menuju SPBU dalam waktu bersamaan.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Sumatera Utara mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi panic buying. Beliau menegaskan bahwa stok energi untuk wilayah Sumatera Utara masih sangat aman dan tidak ada alasan untuk merasa khawatir akan kehabisan pasokan dalam waktu dekat.
Baca Juga : Keluhan Warga: Jalan Sembada Medan Tak Pernah Mulus, Hanya “Tambalan”
Gubernur juga mengklarifikasi adanya salah kaprah masyarakat terhadap pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. “Banyak masyarakat yang salah tangkap. Tangki cadangan kita memang cukup untuk 21 hari, tapi bukan berarti setelah itu stok habis. Sebelum 21 hari berakhir, stok pasti sudah diisi kembali. Kita tidak pernah kehabisan BBM,” tegasnya pada Sabtu (7/3).
Dampak dari antrean panjang tempo hari sangat dirasakan oleh para pengemudi ojek online (ojol) di Medan. Bagi mereka, BBM adalah “amunisi” utama agar kendaraan bisa terus beroperasi mencari nafkah. Safrida, salah satu pengemudi ojol di kawasan Setia Budi, mengakui bahwa produktivitasnya sempat terganggu akibat kemacetan di area pengisian bahan bakar. “Kemarin memang parah sekali antrean BBM, kami yang ojol ini terkena imbasnya. Karena kami memang harus isi BBM untuk kerja, mau tidak mau harus ikut antre panjang di SPBU terdekat,” keluh Safrida saat ditemui sambil menunggu orderan masuk di sekitar Setia Budi.
Ia juga menyayangkan sikap sebagian masyarakat yang terlalu berlebihan dalam merespons isu hoaks tersebut. “Ada kesalnya juga melihat warga yang tangkinya masih penuh tapi ikut antre. Kemarin kejadian di depan saya, ada yang antre panjang cuma untuk isi 10 ribu rupiah. Itu kan sebenarnya membebani antrean bagi yang benar-benar membutuhkan,” pungkasnya. (Febrian)

