Wartalive.co.id – Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (Syahada) Padangsidimpuan melangkah progresif dalam penguatan tata kelola kemahasiswaan dengan menggelar Forum Group Discussion (FGD) Finalisasi Buku Strategi Pembinaan Organisasi Mahasiswa (SPOMA).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom ini menjadi titik penting dalam pembenahan organisasi mahasiswa di tengah era digitalisasi dan disrupsi global.
Kegiatan FGD yang berlangsung lebih dari dua jam ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pimpinan Kampus, alumni, tokoh muda, dunia usaha, praktisi Perbankan, hingga pejabat Kementerian Agama RI.
Baca Juga : Polsek Patumbak Lumpuhkan Pelaku Curat yang Sudah Tiga Kali Beraksi
Rektor UIN Syahada, Prof. Dr. H. Muhammad Darwis Dasopang, MAg menegaskan, SPOMA hadir sebagai jawaban atas tuntutan zaman dan SPOMA ini adalah bagian dari misi mencetak pemimpin umat dan bangsa.
” Pembinaan kemahasiswaan tidak cukup dengan pendekatan administratif dan harus menyentuh sisi karakter, spiritualitas serta kepemimpinan, ” ujar Prof. Muhammad Darwis Dasopang, Kamis (19/6/2025).
Menurutnya, SPOMA bukan hanya sebuah dokumen administratif, melainkan manifestasi komitmen UIN Syahada dalam mencetak generasi pemimpin yang unggul secara intelektual, spiritual dan sosial.
Di era digitalisasi dan disrupsi seperti sekarang, organisasi mahasiswa harus dibina dengan pendekatan yang adaptif, kontekstual dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pentingnya menyisipkan narasi sejarah dalam pembinaan kemahasiswaan.
” SPOMA hadir untuk menjawab tantangan tersebut, dengan memperkuat karakter, menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan menyiapkan mahasiswa untuk berkontribusi secara nyata bagi umat dan bangsa. Tanpa memahami sejarah Ormawa, arah geraknya bisa kabur. Mahasiswa perlu identitas perjuangan, ” ucap Marwan.
Dukungan penuh juga datang dari Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan Direktorat PTKI Kemenag RI, Papay Supriatna, SS, MPd, yang menilai SPOMA UIN Syahada berhasil mengintegrasikan nilai keagamaan dengan manajemen organisasi modern.
“ Kita tak bisa lagi memakai pola lama untuk membina generasi muda. Kita harus adaptif, relevan dan kontekstual dengan zaman digital, ” tegasnya.
Menurutnya, SPOMA UIN Syahada merupakan inisiatif yang luar biasa karena mampu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan pendekatan manajemen organisasi modern.
Di tengah tantangan era digital dan globalisasi, pembinaan organisasi mahasiswa tidak bisa lagi menggunakan pola lama. Kita perlu strategi yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan konteks zaman.
” Organisasi mahasiswa harus menjadi ruang dialektika, tempat tumbuhnya karakter kepemimpinan, semangat kebangsaan, dan kesiapan menjadi agen perubahan yang nyata bagi masyarakat, bangsa dan agama, ” ucapnya
Sedangkan Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Syahada, Sumber Rezeki, menyebut SPOMA sebagai komitmen nyata kampus dalam membentuk mahasiswa yang visioner.
Lihat Juga : Wujudkan Swasembada Ikan, Tapsel Libatkan Kearifan Lokal dan Masyarakat
“ Kami ingin organisasi bukan sekadar tempat berkegiatan, tapi ruang tumbuh menjadi pemimpin. Forum ini bukan sekadar ruang evaluasi dokumen, namun menjadi ajang refleksi bersama untuk memperkuat karakter, kelembagaan, dan jejaring organisasi mahasiswa, ” katanya.
Berbagai pandangan konstruktif juga datang dari Alumni dan mitra Eksternal. Pengusaha muda sekaligus alumni UIN Syahada, Riswan Efendi Hasibuan, menegaskan pentingnya ketangguhan mental dalam organisasi.
Organisasi mahasiswa bukan hanya tempat belajar rapat dan acara, tapi ruang untuk membentuk mental yang tangguh dan karakter yang siap menghadapi dunia nyata. SPOMA harus membentuk mahasiswa yang tangguh, tidak hanya pintar.
” SPOMA harus memastikan pembinaan mahasiswa mencakup aspek tanggung jawab, kerja tim, dan ketahanan menghadapi tekanan. Dunia kerja dan dunia usaha menuntut lebih dari sekadar kecerdasan akademik, ia menuntut daya juang, integritas dan kemampuan beradaptasi, ” tuturnya
Sementara praktisi HRD, Dwi Purwanto, menyarankan agar SPOMA ditindaklanjuti dengan pelatihan, magang, dan sistem monitoring. SPOMA adalah langkah awal yang sangat strategis, tapi implementasinya harus berkelanjutan.
” Tidak cukup hanya diluncurkan, harus ada tindak lanjut berupa pelatihan rutin, program magang dan sistem evaluasi berkala. Organisasi mahasiswa harus menjadi tempat belajar nyata, di sana mahasiswa belajar kepemimpinan, komunikasi, dan etos kerja yang akan sangat dibutuhkan di dunia profesional, ” ungkapnya
Dukungan lain datang dari Yudi, perwakilan Bank Indonesia Sibolga, yang menekankan pentingnya inovasi dan literasi. SPOMA harus mendorong mahasiswa untuk kreatif dan solutif, bukan sekadar ikut-ikutan.
” Mahasiswa hari ini tidak cukup hanya aktif berorganisasi, mereka juga harus melek literasi, kreatif dan inovatif. SPOMA harus menjadi pemicu lahirnya gerakan mahasiswa yang berpikir solutif dan tidak sekadar ikut-ikutan tren. Organisasi harus mampu membentuk mindset wirausaha, pemikiran terbuka, dan keberanian menghadirkan perubahan nyata di masyarakat, ” kata Yudi
Kepala Biro UIN Syahada, Ali Murni, SAg, MAP, selaku mentor proyek perubahan, mengingatkan bahwa SPOMA harus menjadi sistem yang hidup, bukan proyek sesaat.
Hal serupa disampaikan oleh Coach Neneng Maria Kiptyah dari Posbangkom Kemenag RI. Ia menegaskan bahwa SPOMA adalah milik institusi, bukan individu. “ Kalau semua merasa memiliki, kita akan jaga bersama, ” katanya.
Kesepakatan bersama juga muncul, SPOMA harus menjadi dokumen hidup yang ditinjau dan diperbarui secara berkala mengikuti dinamika generasi muda.
“ Jangan jadi kitab suci yang tidak bisa disentuh. Harus fleksibel dan adaptif, ” ungkap salah satu peserta.
Ratonggi Hasibuan, reformer dalam proyek ini, menyampaikan, SPOMA terbagi dalam tiga pilar utama: penguatan kelembagaan, program pembinaan dan pengembangan, serta pembangunan jejaring eksternal.
“ Mahasiswa harus dapat nilai tambah dari organisasi: etika, kolaborasi, dan jejaring. Itu yang membedakan mereka dari sekadar mengejar SKS, ” paparnya.
Menurutnya, FGD ini juga menjadi forum evaluasi substansi SPOMA dengan melibatkan tokoh-tokoh dari NU, MUI, BI Syariah, akademisi dari berbagai PTKIN, hingga unsur mahasiswa dan alumni.
Selain itu, banyak peserta mengusulkan agar SPOMA disosialisasikan melalui workshop, coaching, dan simulasi, agar benar-benar membumi di kalangan mahasiswa.
Lihat Juga : Sabam Rajagukguk Gandeng Gus Irawan Serahkan Bantuan ke Petani Tapsel
FGD ini menandai sinergi kampus dengan ekosistem eksternal, dunia usaha, Perbankan, Alumni dan tokoh muda, sebagai bentuk kolaborasi konkret dalam mempersiapkan generasi pemimpin masa depan. Penutupan kegiatan diwarnai dengan harapan agar SPOMA segera disahkan dan diimplementasikan mulai tahun akademik 2025/2026.
” Dengan semangat kebersamaan dan visi transformatif, finalisasi SPOMA ini menjadi langkah penting menuju pembinaan organisasi mahasiswa yang lebih adaptif, inklusif dan kontekstual dengan tantangan zaman, ” ungkapnya. (Wan)

