Wartalive.co.id – Pemandangan becak motor (betor) yang terus berjalan tanpa penumpang di jalanan Kota Medan kini menjadi pemandangan yang lazim (4/4). Transportasi ikonik yang dahulu menjadi primadona warga lokal maupun wisatawan, perlahan mulai kehilangan taringnya. Modernisasi transportasi melalui aplikasi digital kini memaksa para penarik becak untuk berjuang lebih keras demi sesuap nasi di tengah kepungan layanan ojek online yang kian menjamur.
Kondisi lesunya peminat transportasi tradisional ini dirasakan betul oleh Sutris, salah seorang penarik becak motor yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya di jalanan Medan. Menurutnya, jumlah penumpang yang menggunakan jasanya menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengaku kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan menunggu di pangkalan daripada mengantarkan penumpang ke tujuan.
“Sekarang sudah susah nyari penumpang untuk naik becak, sekarang banyaknya naik ojek online. Padahal masih banyak becak yang aktif di Medan ini, tapi peminatnya sudah berkurang,” ujar Sutris dengan nada getir saat ditemui di sela kegiatannya menunggu penumpang. Fenomena ini menurutnya menjadi tantangan terberat bagi para pengemudi betor yang belum beralih ke platform digital.
Baca Juga : PN Medan Terima Dokumen RDPU Komisi III DPR RI Terkait Kasus Video Profil Desa Karo
Sutris menambahkan bahwa kehadiran teknologi memang memudahkan masyarakat, namun di sisi lain mematikan mata pencaharian mereka yang masih setia dengan cara konvensional. Meski jumlah armada becak di Medan masih tergolong banyak, namun frekuensi keberangkatan mereka setiap harinya tidak lagi menentu. Persaingan harga dan kemudahan akses menjadi faktor utama yang membuat becak motor kian tersisih dari aspal jalanan.
Di sisi lain, pergeseran gaya hidup masyarakat yang menginginkan segala hal secara instan turut memperkuat dominasi ojek online. Widya, seorang karyawan swasta di Medan yang rutin menggunakan jasa transportasi daring, mengungkapkan bahwa kepraktisan adalah alasan utamanya berpindah hati dari becak motor ke layanan berbasis aplikasi. Baginya, efisiensi waktu adalah hal yang paling krusial dalam mobilitas sehari-hari.
“Naik ojek online lebih simple, kita tinggal pesan nanti driver-nya datang. Tidak perlu menunggu lagi seperti becak motor, yang harus nunggu becak itu lewat,” ungkap Widya. Menurutnya, kemudahan untuk memesan kendaraan dari dalam rumah atau kantor tanpa harus berdiri di pinggir jalan memberikan kenyamanan lebih bagi para pengguna jasa transportasi di tengah cuaca Medan yang tidak menentu.
Lihat Juga : Polda Sumut Ringkus Pengedar Sabu di Balige Lewat Penyamaran Transaksi
Selain masalah kecepatan dan aksesibilitas, faktor transparansi harga juga menjadi alasan kuat mengapa masyarakat lebih memilih ojek online. Widya menjelaskan bahwa sistem tarif yang sudah tertera di aplikasi menghilangkan proses tawar-menawar yang seringkali melelahkan dan tidak pasti. “Ojek online juga lebih simpel aja, tarifnya juga sudah ditentukan, tidak perlu menawar-nawar lagi, lebih praktis dan lebih cepat juga,” tambahnya.
Realita yang dihadapi Sutris dan kenyamanan yang dirasakan Widya merupakan potret nyata dari transisi transportasi di kota besar. Tanpa adanya inovasi atau perhatian khusus terhadap nasib transportasi tradisional, keberadaan becak motor di Medan dikhawatirkan akan benar-benar hilang dan hanya menjadi catatan sejarah. Kini, para penarik becak hanya bisa berharap pada sisa-sisa pelanggan setia dan kebijakan yang mampu melindungi eksistensi mereka di tengah gempuran teknologi. (Febrian)

