Wartalive.co.id – Pemadaman listrik secara terus-menerus kembali melanda kawasan Simpang Pemda dan Simpang Selayang pada Senin (8/6). Kondisi ini mengundang keluhan hebat dari warga sekitar dan para pengguna jalan yang melintas. Pasalnya, pemadaman yang terjadi berulang kali ini dinilai sangat mengganggu aktivitas sehari-hari serta melumpuhkan urat nadi perekonomian lokal.
Dampak paling parah dari pemadaman listrik kali ini terasa di sektor lalu lintas. Akibat suplai daya yang terputus, fasilitas lampu pengatur lalu lintas atau traffic light di kawasan Simpang Pemda ikut padam total. Padahal, persimpangan ini dikenal sebagai salah satu titik pertemuan arus kendaraan yang sangat padat di setiap harinya.

Matinya lampu lalu lintas tersebut seketika memicu kemacetan yang luar biasa. Antrean panjang kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, mengular hingga beberapa kilometer dari pusat persimpangan. Suasana di lokasi menjadi sangat semrawut karena kendaraan dari empat arah saling mengunci dan berebut untuk maju terlebih dahulu.
Baca Juga : DPRD dan Pemko Padangsidimpuan Bahas RTRW, Peta Pembangunan Kota Bakal Berubah?
Kondisi pemadaman yang tidak menentu ini dikeluhkan oleh para pelaku usaha di pinggir jalan. Sawal, salah seorang pedagang yang sehari-hari mencari nafkah di sekitar kawasan tersebut, mengaku sangat sengsara dengan ketidakpastian pelayanan publik ini. Menurutnya, pemadaman bisa terjadi kapan saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dari pihak terkait.
“Tiap hari mati lampu, kadang siang, kadang sore, kadang malam, gak tentu. Siang mati lampu, malam ujan deras, sengsara kali,. Kita jualan minuman dingin, tapi kulkas mati, ya gimana” ujar Sawal.
Keluhan senada juga datang dari masyarakat sekitar yang harus berjuang melewati kemacetan parah di jalan raya. Selain mengganggu kenyamanan di dalam rumah, padamnya aliran listrik yang merembet ke fasilitas jalan raya dinilai sangat membahayakan keselamatan para pengendara yang melintas.
Anju, seorang warga setempat yang menyaksikan langsung kesemrawutan di jalanan, menyebut bahwa situasi diperparah oleh ego para pengguna jalan. Tanpa adanya fungsi lampu merah dan penjagaan dari petugas, para pengendara cenderung saling serobot demi bisa lolos dari jebakan macet.
Lihat Juga : Integritas Jadi Sorotan Pada Pelatihan Sensus Ekonomi
“Mati lampu bergiliran, lampu merah ikut mati juga lah. Macet itu juga gara-gara gak ada yang mau ngalah, main serobot semua di jalan, bikin tambah ruwet yang ada. Ada lampu merah bagus-bagus aja masih di serobot, apalagi gk ada lampu merah. Makin parahlah yang ada,” tutur Anju.
Warga sangat berharap pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) segera mengatasi gangguan ini dan meminta pihak kepolisian atau Dinas Perhubungan turun ke lokasi untuk mengurai arus lalu lintas yang kian semrawut.(febrian)

